catatan dan tong sampah

Membaca salah satu twit dari @wishnutama saya jadi terinspirasi untuk menulis catatan ini…

Menyusul IMB jadi trending topic di twitter, @wishnutama mengetwit:
[QUOTE]”Percaya tdk percaya menurut AC NIELSEN rating Indonesia Mecari Bakat biasa2 saja, Mesti bikin acara macam coba buat Indonesia?? Sinetron2??”[/QUOTE]
[link]

Hehehe… segitu parahkah AGB Nielsen? IMB udah berkali-kali nongol di TT dan AGB Nielsen merilis bahwa ratingnya biasa-biasa saja.

Bagaimana kalau para pengiklan tidak lagi menggunakan AGB Nielsen, tapi menggunakan Trending Topic Twitter, gratis dan lebih valid? Mungkinkah itu?

Tentang IMB
Indonesia Mencari Bakat (IMB) adalah acara kompetisi bakat seperti musik, tari, dan lain-lain. Secara konsep, IMB menjiplak habis-habisan dari waralaba Got Talent yang sudah mendunia, terlihat dari bel yang ada di meja masing-masing juri (di Indonesia waralabanya dipegang oleh Indosiar, dengan Indonesia’s Got Talent yang belum tayang). Selain itu grafis pembukaannya malah menjiplak habis dari America’s Got Talent. Dengan latar warna biru-merah (bendera amerika) dan satu bintang besar (untung bintangnya tidak berjumlah 50). Selanjutnya bergantian muncul gambar juri dan namanya, gambar presenter dan terakhir tulisan Indonesia Mencari Bakat (dalam warna yang sangat Amerika). Bukan berarti saya pembenci Amerika kalau nulis gini 😛 Saya gak mungkin bisa nulis gini kalau saya bukan penggemar America’s Got Talent (sayang udah distop Indosiar T.T). Namun begitu saya menyaksikan bakat-bakat hebat di IMB, tindak penjiplakan nya yang keji itu tidak penting lagi :P. Yang penting mereka punya peserta yang luar biasa. Saya sih berharap mereka merubah total grafis pembukaan dan konsep mereka, biar gak terlalu njiplak waralaba Got Talent.

Tentang Realigi
Realigi akronim dari Realiti-Religi. Pada intinya sama dengan acara termehek-mehek, yaitu nyari orang hilang dengan dibumbui unsur-unsur agama Islam. Dan akhir-akhir ini dibumbui dengan unsur mistis sampai nongol di TT. Acara yang tidak begitu menarik bagi saya :(. Kelihatan dibuat-buat kayak Termehek-mehek 😛 Apalagi acara ini hadir setelah Termehek-mehek ditegur KPI karena dianggap menipu.

Dunia Lain
Tahun 2010 Dunia Lain kembali dengan nama ‘Masih Dunia Lain’. Tetep menggebrak walau tak seheboh dulu.

Scary Job
Ide acara ini serupa dengan Uji Nyali di Dunia Lain. Bedanya, di sini peserta harus jalan dan melakukan beberapa tugas-tutup dan kunci pintu,jendela,dst-. Seringkali muncul kejadian aneh dan penampakan. Kalau di Dunia Lain, penampakan sekecil apapun akan dibunderi merah,-dikasih tulisan dan diulang terus- di Scary Job, semua penampakan tidak dibunderi merah. Acara yang cukup bagus. Sayang tuh judul sok kebarat-baratan 😛

HarmonySCTV
Acara musik yang katanya sangat bagus. Tau, ah! Saya ga pernah liat.

Gara-gara keasyikan mbahas acara tipi saya jadi hilang fokus. Sampai dimana kita tadi?

Tentang AGB Nielsen
AGB Nielsen adalah satu-satunya di Indonesia lembaga riset media *yang katanya*independen. Produk mereka berupa angka-angka rating acara televisi yang dijual pada pengiklan. Cukup sering AGB Nielsen diragukan kredibilitasnya namun sebagai lembaga yang memiliki reputasi di 30 negara musykil rasanya kalau AGB Nielsen bermain-main dengan kredibilitas. Mungkinkah?

Jejaring Sosial dan Televisi
Sudah jamak manusia negeri ini yang memanfaatkan jejaring sosial, begitupun acara televisi nya. Biar nge tren kali ya? Di antaranya ada @sketsatranstv @onlinetranstv @inserttranstv @matanajwa @kickandyshow (twitter), Bukan Empat Mata, Plesetan Misteri (fb). Kebanyakan memang acara dari TRANS TV / 7.
Itu di sisi televisi, di sisi pemirsa, seberapa sering anda mengetwit apa yang sedang anda saksikan? Cukup sering kan? Mengingat ponsel yang bisa terhubung internet sudah mewabah ke segala kalangan, jejaring sosial bisa menjadi alat survey yang cukup akurat. Apa yang banyak dibicarakan orang dimanapun, termasuk jejaring sosial, itulah yang ingin ditonton orang. Di twitter, buah bibir diejawantahkan menjadi TrendingTopics (sayang pesbuk tidak punya). Coba saja ada lembaga atau situs yang menyortir trending topic berhubungan dengan acara televisi Indonesia, tentu akan cukup bisa dijadikan rujukan pembanding bagi para pengiklan di samping hasil riset AGB Nielsen.

AGB Nielsen vs Jejaring Sosial
Dapatkah jejaring sosial menggantikan peran AGB Nielsen? Sayang sekali rasanya belum bisa. Apa yang banyak dibicarakan adalah apa yang ingin ditonton orang, namun apa yang tidak dibicarakan bukan berarti tidak ditonton orang. Contoh yang sangat kentara adalah berita. Orang menonton berita di TV rata2 cuma ngetwit beritanya, tidak acaranya, tidak pula stasiun TVnya, pengecualian kalau beritanya eksklusif. Karena itulah tampaknya AGB Nielsen masih dibutuhkan. Namun dengan adanya jejaring sosial, paling tidak dapat menjadi data pembanding terhadap hasil riset AGB Nielsen. Karena selama ini AGB Nielsen adalah satu-satunya lembaga riset media di Indonesia, sehingga tidak ada pembanding bagi angka rating.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s