catatan dan tong sampah

Melanjutkan postingan sebelumnya, postingan kali ini berkisah tentang kegalauan masalah partisi harddisk. Sistem operasi apapun harus dipasang ke suatu partisi, kau tahu.

Partisi adalah pembagian ruang dalam harddisk. Ibaratnya, sebuah ruang besar yang akan dijadikan kantor dipasangi sekat-sekat untuk membentuk ruang-ruang. Sekat-sekat ini bisa digeser-geser, sehingga suatu ruang yang dilingkupi sekat tersebut bisa makin besar, makin kecil, atau pindah posisi. Nah ruang inilah yang disebut partisi. Partisi ada dua macam, Primary dan Logical. Saya kurang paham apa yang dimaksud Primary atau Logical ini ._. Yang jelas suatu harddisk fisik hanya dapat memiliki 4 partisi Primary, tapi bisa memiliki beberapa partisi Logical. Barangkali partisi Primary artinya adalah partisi yang dikenali DOS dan OS sedangkan partisi Logical adalah partisi yang hanya dikenali OS.

Penamaan partisi di Windows berbeda dengan di Linux *ah damn!*. Di Windows, partisi bisa kita assign huruf tertentu (C, D, E) dan diberi nama “SYSTEM”, “DATA”, “MASTER”, etc. Namun, di Linux, partisi tidak bisa kita namai, namanya adalah sda1, sda2, sda3, dst. sda-sda ini kemudian bisa di-mount ke “mount point” yang ada di bawah /media/, “mount point” inilah yang bisa kita beri nama. Tipe partisinya pun juga beda. Tipe partisi yang digunakan Windows adalah NTFS, selain itu Windows juga bisa membaca partisi FAT dan FAT32. Sedangkan tipe partisi yang digunakan Linux adalah EXT1, EXT2, EXT3, dan yang terbaru EXT4, tapi Linux juga bisa membaca partisi NTFS, FAT, dan FAT32. EXT memiliki keunggulan dibandingkan NTFS, dengan EXT tiada lagi disk yang terfragmentasi sehingga harus di-defrag. Di Linux, kita bisa melihat partisi yang biasanya tersembunyi kalau di Windows, yaitu “System Reserved” yang digunakan oleh Windows :O

Sebenarnya saya merencanakan keempat partisi Primary saya adalah: SYSTEM, DATA, /swap, / (root). SYSTEM dan DATA adalah partisi Windows yang umum dipakai, sedangkan yang lainnya adalah partisi Linux. Namun, pembagian partisi yang saya nikmati pada akhirnya adalah:

  • Primary 1: sda1 “System Reserved” sebesar 105 MB bertipe NTFS, isinya adalah bootloader Windows 7
  • Primary 2: sda2 “SYSTEM” sebesar 52 GB bertipe NTFS
  • Primary 3: sda3 “DATA” sebesar 105 GB bertipe NTFS
  • Primary 4: sda4 “Extended” sebesar 163 GB yang menampung partisi Logical berikut ini:
    • sda5 “MASTER” sebesar 52 GB bertipe NTFSs
    • sda6 “/swap” sebesar 4 GB, partisi ini adalah partisi khusus Linux yang berfungsi sebagai semacam RAM tambahan yang digunakan untuk menampung data komputer yang di-hibernate, biasanya sebesar dua kali besar RAM. Partisi ini tidak bisa di-mount
    • sda7 “/”, dibaca “root” sebesar 16 GB, partisi ini adalah semacam dengan “SYSTEM” yang menampung OS dan aplikasi-aplikasi yang dipasang ke Linux
    • sda8 “/home” sebesar 90 GB, partisi ini adalah semacam “My Documents” yang menampung data-data kita.

Agak kecewa dengan pembagian ini, karena seingat saya, dari apa yang saya baca, “SYSTEM”, “DATA”, “/”, dan “/swap” sebaiknya merupakan partisi Primary. Ah sudahlah, tampaknya saya tak dapat melakukan apapun tentang itu, lihat saja pembagian partisi di atas, tidak seperti ada partisi Primary yang bisa saya ganti.

Hal penting lainnya dalam merencanakan partisi adalah masalah seberapa besar ukuran partisi masing-masing. Karena saya masih ragu-ragu sama Katya, saya jatah buat Katya 100 GB, buat Windows 200 GB. Sesuai rencana awal, saya memilih menetapkan “SYSTEM” sebesar 50 GB saja dari yang sebelumnya 150 GB, “MASTER” 50 GB, dan sisanya 100 GB untuk “DATA”. Sedangkan untuk partisi-partisi Linux, /swap dapat jatah 4 GB (RAM saya 2 GB), / 16 GB, dan sisanya 90 GB untuk /home. Kegamangan yang paling mengganggu saat merencanakan ukuran partisi adalah seberapa besar ukuran partisi untuk /home, sedangkan saya belum tahu apakah partisi-partisi Linux juga bisa diakses dengan baik oleh Windows seperti Linux bisa mengakses partisi-partisi Windows dengan baik. Di posting lain yang merupakan lanjutan dari posting ini akan saya bahas software Ext2Fsd yang saya temukan dari Google yang sempat menyingkirkan lalu mengembalikan lagi kegamangan saya itu 🙂

Bersambung ke postingan berikutnya 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s